11. AL MUTAKABBIR (Dzat Yang Maha Memiliki Kebesaran) Allah Ta'ala sangat patut untuk dibesarkan karena ketiga Asma’ yang dimiliki-Nya. Yaitu Al Muhaimin (Dzat Yang Maha Memelihara), Al Aziz (Dzat Yang Maha Perkasa) dan Al Jabbar (Dzat Yang Maha Memaksa). Allah Ta'ala senantiasa memelihara hamba-hambaNya dan apabila Dia telah memelihara maka tidak ada satupun yang bisa memudhoratkannya. Dan Allah Ta'ala akan memaksa hamba-hambaNya untuk menjalani segala ketentuan-Nya dan tidak ada satupun yang bisa menolaknya. Oleh sebab itu hanya Allah Ta'ala yang patut untuk dibesarkan. Apabila didalam kehidupan ini kita bisa melindungi orang lain, baik itu dengan harta, dengan ilmu atau dengan tenaga, maka jangan sekali-kali kita merasa besar dan ingin dibesarkan. Maksudnya adalah, apabila kita bisa melindungi orang lain dengan harta, yaitu kita membantu meringankan bebannya dengan harta, atau melindungi orang lain dengan ilmu, yaitu membantu meringankan bebannya dengan ilmu, atau melindungi orang lain dengan tenaga, yaitu membantu meringankan bebannya dengan tenaga, maka jangan sekali-kali merasa besar dan ingin dibesarkan. Akan tetapi kebanyakan manusia apabila telah melakukan ketiga hal diatas, atau salah satu saja dari ketiga hal tersebut, maka dia akan merasa besar dan ingin dibesarkan. Padahal dia hanya sebatas perantara Allah Ta'ala dan apapun yang dapat dia lakukan semata-mata karena izin dan pertolongan-Nya. Seharusnya dia bersyukur kepada Allah Ta'ala karena telah dipilih dan diberi kesempatan untuk beramal. Karena andaikata Allah Ta'ala menghendaki, Dia bisa memilih dan menunjuk orang lain yang lebih baik dari padanya. Sifat Al Mutakabbir ini hanyalah milik Allah. Oleh sebab barang siapa yang memakainya akan dimasukkan kedalam Neraka Jahannam. Apabila kita merasa perkasa sehingga merasa mampu memelihara diri sendiri, keluarga dan harta, atau ingin memaksakan kehendak kepada orang lain, maka kita termasuk orang yang takabbur (merasa besar) dan tempat kita nanti adalah Neraka Jahannam. Dalam hidup ini banyak sekali manusia yang mencari harta yang banyak, ilmu yang banyak, kekuasaan atau jabatan yang tinggi dan kekuatan (kesaktian) agar bisa memelihara dirinya sendiri dan bisa memaksakan kehendak kepada orang lain. Padahal semua itu adalah bentuk kesombongan. Seharusnya kita benar-benar bergantung kepada Allah Yang Maha Memiliki Kebesaran. Karena kita ini adalah seorang hamba yang tidak memiliki daya upaya dan kekuatan sedikitpun. A. Sisi Tafakkurnya Seberapa banyak kebaikan yang sudah kita lakukan yang kita minta diperhitungkan oleh manusia (dipuji oleh manusia), dan seberapa banyak yang kita lakukan semata-mata hanya karena Allah Ta’ala dan menginginkan hanya Allah Ta’ala yang dipuji? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hambaMu yang selalu membesarkan-Mu. C. Sikap Orang Beriman Orang-orang yang beriman sangat yakin bahwa segala sesuatu adalah kehendak Allah Ta'ala, sehingga hanya Allah Ta'ala yang berhak dibesarkan. Sedangkan manusia sedikitpun tidak pantas dibesarkan karena manusia hanya sebatas perantara Allah Ta'ala saja. D. Sikap Orang Bertaqwa Orang-orang yang bertaqwa sedikitpun tidak pernah merasa besar dan ingin dibesarkan orang lain, walaupun dia telah melakukan ketiga hal diatas. Dan apabila ada orang lain yang membesarkan-nya, dia sangat malu. Karena dia menyadari bahwa dirinya hanya sebatas perantara Allah Ta'ala saja dan apapun yang dapat dia lakukan semata-mata karena izin dan pertolongan-Nya. Justru dia sangat bersyukur kepada Allah Ta'ala karena telah dipilih menjadi perantaraNya dan berterima kasih kepada sesama manusia karena mau menerima kebaikan darinya. Dan apabila dia menerima kebaikan dari orang lain, diapun tidak akan membesarkan orang lain tersebut. Karena orang lain itu juga hanya sebatas perantara Allah Ta'ala. Didalam hidup ini jangan sekali-kali ada perasaan merasa besar dan jangan pula membesarkan orang lain. Karena semua manusia hanya makhluq yang lemah, bodoh, faqir, tidak punya daya upaya dan kekuatan sedikitpun kecuali atas pertolongan Allah yang Maha Agung. Dan sesungguhnya Allah Ta'ala sangat murka kepada orang-orang yang merasa besar dan membesarkankan orang lain. Adakah yang dapat kita lakukan tanpa sarana dan pertolongan dari Allah Ta'ala? Tanpa sarana dan pertolongan dari Allah Ta'ala, tidak mungkin kita bisa melakukan apa-apa. Bahkan untuk melihat-pun andaikata tidak diberi mata oleh Allah Ta'ala tidak akan mungkin bisa. Akan tetapi kenapa kita merasa besar dan ingin dibesarkan? Oleh sebab itu salah satu cara untuk menghilangkan kesombongan, adalah dengan memahami dan meyakini Asma’ Al Mutakabbir ini. Bagaimana mungkin kita menjadi sombong dengan sesuatu yang bukan kepunyaan dan kemampuan kita? Tentunya kita akan merasa sangat malu. Karena didalam sholat kita membaca Tahiyyat yaitu, Attahiyyatul, Mubarokaatus, Sholawaatut, Thoyyibaatulillah. Bahwa segala kehormatan, keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan adalah kepunyaan Allah Ta'ala. Sebetulnya yang sering merasa besar dan ingin dibesarkan adalah orang tua terhadap anak-anaknya. Atau seorang atasan terhadap bawahannya. Karena kebanyakan orang tua merasa telah melindungi anak-anaknya dengan harta, ilmu dan tenaga, sehingga dia merasa besar dan ingin dibesarkan. Setelah itu dia-pun memaksa anak-anaknya untuk mematuhi segala keinginannya serta tidak mau dibantah walaupun dia salah. Padahal orang tua hanya sebagai perantara Allah Ta'ala saja, sedangkan yang memelihara dan mencukupi segala-galanya adalah Allah Ta'ala. Dan kebaikan apapun yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak-anaknya akan diberi pahala oleh Allah Ta'ala. Sebagai contohnya seorang bapak yang keluar rumah untuk mencari nafkah guna mencukupi keluarganya. Maka Allah Ta'ala memberinya pahala jihad, yang penting dia bekerja dengan syareat yang benar. Begitupun seorang ibu yang memasak untuk keluarganya. Setiap butir nasi bertasbih kepada Allah Ta'ala dan pahalanya diberikan kepadanya. Oleh sebab itu tidak seharusnya orang tua merasa besar dan ingin dibesarkan, tetapi seharusnya dia bersyukur kepada Allah Ta'ala. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, bimbinglah kami agar selalu merendahkan diri dihadapan-Mu dan berendah hati kepada sesama manusia. F. Sikap Orang Bertawakkal Orang-orang yang bertawakkal akan menyerahkan segala urusannya kepada Allah Ta'ala dan sangat berharap dirinya dijadikan oleh Allah Ta'ala sebagai perantara-Nya didalam memberikan ilmu, amal dan kebaikan kepada hamba-hambaNya yang lain. G. Sikap Orang Mukhlis Orang-orang mukhlis akan merasa senang dan sangat bersyukur apabila Allah Ta'ala memilihnya sebagai perantara-Nya, didalam memberikan kebaikan kepada hamba-hamba-Nya yang lain. Baik itu dengan tenaga, ilmu atau harta. Karena orang yang lebih baik, lebih pintar, lebih kaya dan lebih kuat dari padanya sangat banyak. Akan tetapi Allah Ta'ala memilihnya menjadi perantara-Nya. Bukankah ini suatu rahmat yang patut dia syukuri? Oleh sebab itu dia sangat ikhlas disaat menjadi perantara Allah Ta'ala dan sedikitpun tidak ada kesombongan didalam dirinya. Didalam hidup ini apabila Allah Ta'ala memberikan tawaran amal kepada diri kita, hendaklah tawaran itu segera kita ambil dan jangan kita tolak atau tunda. Karena apabila kita tolak, maka tawaran tersebut akan dipindahkan kepada orang lain. Sehingga kita tidak memperoleh amal apa-apa. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Mutakabbir Apabila telah menjadi kholifah, maka ia dapat memelihara dan membantu orang lain sehingga orang tersebut dapat melakukan sesuatu yang sesuai dengan hukum Allah Ta’ala dan sunnah Rasul-Nya. Dengan kata lain a akan selalu berusaha untuk menolong dan memudahkan orang lain, dan ia meyakini (menyadari) bahwa dirinya hanyalah sebagai perantara Allah Ta'ala saja. Kalaupun dirinya bermanfaat untuk orang lain, maka ia hanya sebagai perantara Allah Ta’ala, karena segala sesuatunya datang dari Allah Ta’ala, sehingga dengan demikian kesombongan tidak akan melekat pada dirinya. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Mutakabbir Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu untuk membantu manusia agar dapat melakukan sesuatu sesuai dengan hukum-hukumMu dan sunnah Rasul-Mu. Dan tolonglah kami agar tidak menjadi sombong apabila bisa melakukan sesuatu untuk orang lain.